
Pembangunan infrastruktur digital menjadi salah satu langkah penting dalam mendukung transformasi kota modern. Di Kota Bandung, program penataan kabel udara menuju sistem ducting bawah tanah mulai dijalankan sebagai bagian dari pengembangan tata kota dan infrastruktur digital yang lebih rapi.
Meski demikian, implementasi kebijakan tersebut mulai menuai perhatian dari pelaku industri telekomunikasi lokal. Sebanyak 25 operator yang tergabung dalam Koalisi Penyelenggara Infrastruktur Digital Bandung (KPIDB) meminta adanya evaluasi terhadap struktur tarif ducting yang dinilai cukup membebani operator lokal dan penyedia layanan internet skala menengah.
Juru Bicara KPIDB, Sony Setiadi, menyampaikan bahwa pihak operator mendukung upaya penataan kota. Namun menurutnya, implementasi kebijakan tetap perlu mempertimbangkan keberlangsungan industri internet lokal yang selama ini berperan dalam memperluas akses digital masyarakat.
“Kami mendukung penataan utilitas kota, tetapi perlu ada pembahasan menyeluruh terkait regulasi, teknis, hingga skema komersial agar implementasinya berjalan adil bagi semua pelaku industri,” ujar Sony Setiadi.
Dalam pembahasannya, KPIDB menyoroti tarif ducting sebesar Rp15 ribu per meter yang dinilai cukup berat bagi operator lokal. Menurut Sony, biaya tersebut berpotensi menimbulkan tekanan besar terutama bagi perusahaan penyedia internet yang melayani kawasan permukiman dan wilayah dengan pendapatan pelanggan yang tidak terlalu tinggi.
Operator menilai, skema tarif flat tanpa mempertimbangkan karakteristik wilayah dapat memengaruhi pemerataan layanan internet di Kota Bandung. Jika biaya operasional meningkat signifikan, maka pengembangan jaringan internet di wilayah non-prioritas berisiko melambat.
Selain itu, biaya migrasi kabel menuju sistem bawah tanah juga dinilai membutuhkan investasi besar di luar biaya sewa ducting itu sendiri.
Sony menyebut, untuk cakupan jaringan tahap awal saja, operator dapat menghadapi beban biaya hingga miliaran rupiah. Kondisi ini membuat pelaku industri berharap adanya solusi yang lebih adaptif dan berorientasi pada keberlanjutan ekosistem digital lokal.

KPIDB menilai operator lokal memiliki peran penting dalam membantu pemerataan internet di Bandung, termasuk menjangkau kawasan yang belum sepenuhnya dilayani penyedia jaringan berskala besar.
Karena itu, kebijakan tarif ducting diharapkan tidak hanya fokus pada penataan kota, tetapi juga mempertimbangkan dampaknya terhadap akses internet masyarakat dan pertumbuhan UMKM digital.
Dalam beberapa tahun terakhir, kebutuhan internet rumah dan konektivitas digital terus meningkat, baik untuk kebutuhan pendidikan, bisnis, hingga aktivitas kerja hybrid. Operator lokal pun menjadi salah satu pihak yang turut memperluas akses layanan internet dengan harga yang lebih kompetitif.
Jika biaya infrastruktur meningkat terlalu tinggi, operator khawatir masyarakat akan ikut terdampak, baik dari sisi harga layanan maupun kecepatan perluasan jaringan internet baru.
Sebagai solusi, KPIDB mendorong adanya ruang dialog terbuka bersama Pemerintah Kota Bandung dan seluruh pemangku kepentingan terkait implementasi ducting bawah tanah.
Koalisi berharap terdapat pembahasan lanjutan mengenai:
Menurut Sony Setiadi, pendekatan kolaboratif menjadi langkah penting agar pembangunan infrastruktur digital dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan industri internet lokal.
“Kami percaya penataan utilitas kota dapat berjalan seiring dengan penguatan ekonomi digital daerah dan keberlangsungan operator lokal,” kata Sony.

Penataan kabel bawah tanah memang menjadi bagian dari modernisasi kota yang banyak diterapkan di berbagai daerah. Selain meningkatkan estetika kota, sistem ducting juga dinilai mampu meningkatkan keamanan dan penataan utilitas jaringan.
Namun di sisi lain, keberhasilan implementasi kebijakan tersebut juga bergantung pada kesiapan ekosistem industri yang menjalankannya. Karena itu, operator berharap kebijakan yang diterapkan mampu menciptakan keseimbangan antara pembangunan kota modern dan keberlangsungan layanan internet masyarakat.
Baca juga : Simaya dan Sony Setiadi Tawarkan Internet Rumah Unlimited Tanpa FUP
Dengan kebutuhan internet yang terus meningkat di Bandung, kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi digital daerah secara berkelanjutan.
Chat Customer Service